Tokusatsu Bima Satria
Garuda
sebagai Budaya Populer Indonesia
Tokusatsu berasal
dari dua kata yakni tokushu dan satsuei yang berarti ‘live action’.
Menurut kamus, tokusatsu adalah salah
satu genre dalam acara hiburan televisi yang menggunakan kostum dan efek
sepesial dan umumya bertema kepahlawanan. Pengertian ini sekarang menjadi film
super hero asal Jepang non-animasi (diperankan oleh manusia). Tokusatsu secara umum diperuntukkan
sebagai tontonan semua umur. Menjamurnya industri kreatif Jepang ini di Indonesia ini memberi dampak bagi
Indonesia yaitu dengan adanya kerjasama antara Jepang dan Indonesia yang membuat
sebuah anime yang diproduksi oleh Ishimori
Production (sebuah perusahaan manga Jepang) yaitu Garuda Bima yang sekarang
sampai mendapat sequel kedua yaitu Garuda
BimaX. Televisi show tentang pahlawan bertopeng (tokusatsu) ini disutradarai oleh Hiroki Asai namun pemeran atau
aktornya adalah berasal dari Indonesia. Kerjasama Ishimori Production dengan rcti inilah yang menjadi fokus
penelitian saya dimana budaya populer tokusatsu
yang masuk ke Indonesia mulai tahun 1990-an ini menjadi sebuah trend di dalam
masyarakat Indonesia yang dimana tidak hanya sebuah tontonan saja yang menjadi
populer namun juga baju dan segala macam atribut nya pun menjadi populer dalam
masyarakat Indonesia.
Keywords:Fenomena Tokusatsu
(Pahlawan Bertopeng), Budaya populer tokusatsu
dan cosplay di Indonesia, Garuda Bima
(Televisi Show)
PENDAHULUAN
Televisi
sebagai alat media visual audio banyak digemari oleh masyarakat di
Indonesia, sebagai salah satu sarana
penyampaian informasi dan juga hiburan bagi masyarakat televisi merupakan suatu
barang yang sangat variatif dan juga menghibur. Televisi sebagai media
komunikasi massal sangat berpengaruh terhadap penanaman budaya populer kepada
benak audiensnya (penonton) dimana banyaknya budaya populer yang saat ini kita
ketahui masuk ke indonesia dengan dibawa oleh televisi. Budaya populer atau
Budaya Massa diartikan oleh McDonald sebagai kekuatan dinamis yang
menghancurkan batasan kuno,tradisi,selera, dan mengaburkan segala macam
perbedaan (Vidyarini, 2008:30). Budaya massa membaur dan dan mencampuradukan
segala sesuatu, menghasilkan apa yang disebut budaya homogen. Budaya tinggi
menyesuaikan diri dengan moral yang dianut suatu masyarakat. Bila budaya tinggi
adalah suatu bentukan dari dukungan kestabilan dan kemapahan nilai-nilai dalam
masyarakat, maka budaya populer pada awalnya bertindak sebagai counter culture yang melawan kemapaman,
memberikan alternatif bagi sebuah masyarakat yang berubah, kemudian menjadi
pemersatu unsur-unsur masyarakat yang terpisahkan kelas dan status sosial dalam
satu komunitas massa ‘maya’.
Tokusatsu berasal dari dua kata yakno tokushu dan satsuei yang berarti ‘live action’. Menurut kamus, tokusatsu adalah salah satu genre dalam acara hiburan televisi yang menggunakan kostum dan efek sepesial dan umumya bertema kepahlawanan. Pengertian ini sekarang menjadi film super hero asal Jepang non-animasi (diperankan oleh manusia). Tokusatsu secara umum diperuntukkan sebagai tontonan semua umur, dengan target segmentasi utamanya adalah anak-anak ditayangkan biasanya pagi atau sore hari. Rata-rata serial televisi maupun film tokusatsu bertema kebaikan melawan kejahatan, dengan plot yang sederhana dan tidak berat. Namun ada juga serial ataupun film tokusatsu yang diperuntukan untuk dewasa yang ditayangkan di Jepang pada malam hari, karena mengandung materi yang cukup vulgar dan lebih eksplisit sehingga tidak pantas ditonton untuk semua umur.
Serial Tokusatsu yang diproduksi oleh Indonesia lebih tepatnya MNC Media dengan bekerjasama pihak Ishomori Production ini ditayangkan oleh stasiun televisi RCTI Mulai 30 Juni 2013 hingga 22 Desember 2013 (sequel pertama) setiap hari minggu pukul 08.30 WIB dan tayangan ulangnya hari sabtu pukul 15.00 WIB. Pada 15 Juni 2014, pihak MNC mengumumkan peluncuran sequel kedua Bima Satria Garuda yang berjudul Satria Garuda BIMA-X serial sequel ini mulai tayang pada 7 september 2014 sebanyak 50 episode menampilkan karakter baru dalam dunia BIMA. Tokusatsu Indonesia ini terinspirasi oleh tokusatsu Jepang yaitu Ksatria Baja Hitam, dikemas dalam nilai-nilai budaya Indonesia untuk menjadi pahlawan super baru Indonesia.
Tokoh Bima Satria Garuda (diperankan oleh Christian Loho), yang telah mendapatkan kekutatan super stone yang diberikan oleh seorang anak misterius yang bernama Mikhail (diperankan Aditiya Alkhatiri) dengan tujuan agar Bima Satria dapat menghentikan Rasputin untuk mengambil dan menguasai bumi. Dengan kekuatan super stone yang diberikan oleh Mikhail Bima dapat berubah wujud menjadi super hero Bima Satria Garuda. Disetiap pertempuran dengan Rasputin keluarga angkat Bima juga terlibat yaitu Ramdi Iskandar (diperankan Raihan Febrian) dan adiknya Rena (diperankan Stella Cornelia). http://id.wikipedia.org/wiki/BIMA_Satria_Garuda).
Bima Satria Garuda adalah serial pahlawan super yang terinspirasi dari serial tokusatsu Jepang Ksatria Baja Hitam (istilah pelokalan yang pernah digunakan RCTI untuk serial Kamen Rider Black dan Kamen Rider Black RX yang populer di Indonesia, namun dikemas dengan nilai-nilai dan budaya Indonesia untuk menjadi pahlawan super baru Indonesia. Lokasi syuting BIMA diambil di Indonesia, khususnya di Jakarta. Menurut Reino Barack, Wakil Presiden Senior PT Global Mediacom sekaligus Produser Eksekutif serial ini, "BIMA Satria Garuda" juga ditujukan untuk menjadi sebuah model bisnis baru di dunia hiburan di Indonesia yang menawarkan jasa kampanye produk baru dalam bentuk licensing, sponsor, built in advertising dan merchandising pada para sponsor dan pengiklan. MNC Media (yang mayoritas sahamnya dimiliki Global Mediacom) bekerja sama dengan Itochu yang akan menjadi pemegang lisensi utama untuk "BIMA Satria Garuda" dalam membangun bisnis licensing yang dikembangkan di Indonesia. Itochu adalah salah satu perusahaan konglomerat terbesar dari Jepang yang banyak bergelut dalam bisnis licensing di dunia, sekaligus menanamkan modal di Ishimori Productions sejak tahun 2007. MNC Media juga bekerja sama dengan Bandai untuk memproduksi merchandise mainan "BIMA Satria Garuda" yang dirilis di Indonesia sejak penayangan perdana serial ini tanggal 30 Juni 2013.
Bandai sebagai produsen mainan yang sudah punya nama besar di seluruh dunia, sekaligus telah bertahan selama puluhan tahun di industri ini, tentu bukanlah perusahaan yang akan bertindak sembarangan. Tentu sudah ada perhitungan tersendiri dari Bandai, agar nantinya merchandise dari Bima Satria Garuda ini dapat laris di pasaran. Beberapa merchandise yang diproduksi oleh Bandai untuk Bima sendiri saat ini adalah mencakup pada action figure Bima dalam berbagai ukuran dan lainnya yang merupakan perlengkapan tokusatsu Bima.
Kerjasama dalam hal perindustrian inilah yang menjadikan salah satu dari fokus penulis terhadap fenomena tokusatsu Bima yang tayang pada pertelevisian Indonesia, tidak hanya dalam bentuk kerjasama antara perundistrian televisi, penulis juga melihat fenomena tentang bagaimana dampak terhadap fenomena ini dalam masyarakat Indonesia dewasa ini. Karena kita mengetahui sendiri bahwa demam jejepangan mewabah masyarakat perkotaan dewasa ini.
Di dalam konteks Cultural Studies, budaya populer menjadi salah satu sumber komprehensif untuk menelaah kaitan antara teks-teks budaya yang populer dengan ideologi atau hegemoni yang terkandung di dalamnya. Bentuk-bentuk budaya populer yang muncul dapat berupa film, serial televisi, musik, karya sastra, benda (teks) budaya lainnya, maupun gaya hidup yang dibentuk oleh sekelompok individu yang membentuk identitasnya sendiri. Storey (1996) menegaskan bahwa kajian mengenai budaya populer menjadi proyek sentral dalam cultural studies, meskipun cultural studies tidak bisa direduksi hanya berputar pada budaya populer saja. Hal ini disebabkan karena ‘budaya’ dimaknai secara politis bukan estetis, dimaknai dan dimengerti melalui teks dan praktik budaya yang muncul sehari-hari.
Budaya populer yang berasal dari Jepang merupakan salah satu bentuk budaya asing yang masuk dan diterima oleh masyarakat Indonesia. Bentuk media visual tersebut beragam dari anime, tokusatsu, film jepang dorama, permainan vide, dan lain-lain. Budaya populer yang berasal dari Jepang tersebut merupakan budaya yang diproduksi dan dikonsumsi secara luas terutama kalangan generasi muda dengan usia dibawah 30 tahun. Budaya populer tersebut berkembang dan menjadi pengaruh budaya di dunia dan berkontribusi terhadap perekonomian Jepang. Berkembangnya budaya populer Jepang secara lebih luas di Indonesia tidak lepas dari peranan masuknya serial animasi (anime) dan komik (manga) doraemon pada awal 1990-an. Sebelum Doraemon, masyarakat Indonesia menikmati berbagai anime dan tokusatsu melalui rental video betamax yang populer di era 1980-an. Penayangan Doraemon di salah satu telebisi swasta mendorong masuknya berbagai produk budaya populer lainnya seperti Dragon Ball Z, Yugi-oh, Flame of recca di Indonesia. Salah satu yang masuk ke Indonesia adalah tokusatsu yang terdiri dari berbagai genre dan dirilis dalam bentuk serial atau film.
Kompasiana (2013) Simbiosis Mutualisme Merchandise
dan Karakter dalam seri Bima Satria Garuda
http://www.kaskus.co.id/thread/51837eb10a75b4213400000b/bima-satria-garuda-from-ishimori-pro/2
(akses
3 Januari 2015)
https://kasamago.wordpress.com/2013/07/02/damn-bima-satria-garuda-emang-buwat-anak-anak/
(akses 3 Januari 2015)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar