Mengenai Saya

Foto saya
Ganteng, Tidak Sombong, Rajin Menabung, Menyukai budaya pop dan klasik, Olahraga, Musik, dan Membaca.

Kamis, 06 Oktober 2016

Bicara Budaya contoh kecil tanggapan penggemar dan pemerhati televisi


Tokusatsu Bima Satria Garuda sebagai Budaya Populer Indonesia
Tokusatsu berasal dari dua kata yakni tokushu dan satsuei yang berarti ‘live action’. Menurut kamus, tokusatsu adalah salah satu genre dalam acara hiburan televisi yang menggunakan kostum dan efek sepesial dan umumya bertema kepahlawanan. Pengertian ini sekarang menjadi film super hero asal Jepang non-animasi (diperankan oleh manusia). Tokusatsu secara umum diperuntukkan sebagai tontonan semua umur. Menjamurnya industri kreatif  Jepang ini di Indonesia ini memberi dampak bagi Indonesia yaitu dengan adanya kerjasama antara Jepang dan Indonesia yang membuat sebuah anime yang diproduksi oleh Ishimori Production (sebuah perusahaan manga Jepang) yaitu Garuda Bima yang sekarang sampai mendapat sequel kedua yaitu Garuda BimaX. Televisi show tentang pahlawan bertopeng (tokusatsu) ini disutradarai oleh Hiroki Asai namun pemeran atau aktornya adalah berasal dari Indonesia. Kerjasama Ishimori Production dengan rcti inilah yang menjadi fokus penelitian saya dimana budaya populer tokusatsu yang masuk ke Indonesia mulai tahun 1990-an ini menjadi sebuah trend di dalam masyarakat Indonesia yang dimana tidak hanya sebuah tontonan saja yang menjadi populer namun juga baju dan segala macam atribut nya pun menjadi populer dalam masyarakat Indonesia.
Keywords:Fenomena Tokusatsu (Pahlawan Bertopeng), Budaya populer tokusatsu dan cosplay di Indonesia, Garuda Bima (Televisi Show)














PENDAHULUAN
Televisi sebagai alat media visual audio banyak digemari oleh masyarakat di Indonesia,  sebagai salah satu sarana penyampaian informasi dan juga hiburan bagi masyarakat televisi merupakan suatu barang yang sangat variatif dan juga menghibur. Televisi sebagai media komunikasi massal sangat berpengaruh terhadap penanaman budaya populer kepada benak audiensnya (penonton) dimana banyaknya budaya populer yang saat ini kita ketahui masuk ke indonesia dengan dibawa oleh televisi. Budaya populer atau Budaya Massa diartikan oleh McDonald sebagai kekuatan dinamis yang menghancurkan batasan kuno,tradisi,selera, dan mengaburkan segala macam perbedaan (Vidyarini, 2008:30). Budaya massa membaur dan dan mencampuradukan segala sesuatu, menghasilkan apa yang disebut budaya homogen. Budaya tinggi menyesuaikan diri dengan moral yang dianut suatu masyarakat. Bila budaya tinggi adalah suatu bentukan dari dukungan kestabilan dan kemapahan nilai-nilai dalam masyarakat, maka budaya populer pada awalnya bertindak sebagai counter culture yang melawan kemapaman, memberikan alternatif bagi sebuah masyarakat yang berubah, kemudian menjadi pemersatu unsur-unsur masyarakat yang terpisahkan kelas dan status sosial dalam satu komunitas massa ‘maya’.

Tokusatsu berasal dari dua kata yakno tokushu dan satsuei yang berarti ‘live action’. Menurut kamus, tokusatsu adalah salah satu genre dalam acara hiburan televisi yang menggunakan kostum dan efek sepesial dan umumya bertema kepahlawanan. Pengertian ini sekarang menjadi film super hero asal Jepang non-animasi (diperankan oleh manusia). Tokusatsu secara umum diperuntukkan sebagai tontonan semua umur, dengan target segmentasi utamanya adalah anak-anak ditayangkan biasanya pagi atau sore hari. Rata-rata serial televisi maupun film tokusatsu bertema kebaikan melawan kejahatan, dengan plot yang sederhana dan tidak berat. Namun ada juga serial ataupun film tokusatsu yang diperuntukan untuk dewasa yang ditayangkan di Jepang pada malam hari, karena mengandung materi yang cukup vulgar dan lebih eksplisit sehingga tidak pantas ditonton untuk semua umur.

Tokusatsu telah dikenal dalam masyarakat di Indonesia sejak era 1990-an saat itu tokusatsu yang sedang populer adalah Kamen Rider Black di Indonesia ditayangkan dengan judul Ksatria Baja Hitam yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta pada tahun 1992.  Setelah itu banyak stasiun televisi lain turut menayangkan serial tokusatsu dari berbagai genre sebagai tontonan hiburan untuk anak-anak selain anime. Serial tokusatsu yang hadir di televisi Indonesia tersebut mengalami proses penyulihan suara (dubber) untuk memudahkan penonton memahami jalan ceritanya. Baik program tokusatsu maupun anime menjadi acara televisi yang dominan ditayangkan sebagai program anak-anak sejak pertengahan 90-an hingga sekarang ini. Tokusatsu di Indonesia mengalami komodifikasi dari sebuah kegiatan menikmati pertunjukan media visual menjadi hobi yang berhubungan dengan tokusatsu tersebut. kegiatan tokusatsu yang diawali dengan menonton berlanjut dengan  mengoleksi benda-benda yang berhubungan dengan tokusatsu (merchandiseaction figure, replika, musik soundtrack, dan lainnya).

Sedangkan Indonesia saat ini memiliki tokusatsu-nya sendiri yaitu serial televisi show Bima Satria Garuda yang notabennya merupakan serial televisi yang diperuntukan untuk semua umur, bekerja sama dengan pihak jepang tepatnya Ishimori Production dan Bandai Collection dengan MNC Media merupakan pertama kalinya di Indonesia. Serial televisi show ini menceritakan tentang pahlawan bertopeng yang melindungi bumi dari serangan  kerajaan Vudo yang menguasai dunia paralel yang berada diambang kehancuran. Gambaran dari dunia paralel adalah dunia dimana  kegelapan abadi didalamnya yang merupakan tidak ada kehidupan alam didalamnya karena diambil alih oleh kerajaan Vudo. Tokoh Rasputin (diperankan oleh Sultan Simatupan) merupakan tokoh penguasa dari kerajaan Vudo yang sangat kejam, dalam ceritanya ini Rasputin mencari dunia lain untuk mencari sumber daya alam yang cukup untuk kelangsungan dunia paralel yang dikuasainya. Ada seorang Ilmuan yang berasal dari bumi yang melakukan percobaan untuk menyambungkan portal waktu yang bisa menhubungkan dunia paralel dengan Bumi dan  hasilnya dunia bumi dapat ditemukan oleh kerajaan Vudo. Dan Rasputin berencana akan menguasai bumi beserta isinya demi kelangsungan hidup dunia paralel.


Serial Tokusatsu yang diproduksi oleh Indonesia lebih tepatnya MNC Media dengan bekerjasama pihak Ishomori Production ini ditayangkan oleh stasiun televisi RCTI Mulai 30 Juni 2013 hingga 22 Desember 2013 (sequel pertama) setiap hari minggu pukul 08.30 WIB dan tayangan ulangnya hari sabtu pukul 15.00 WIB. Pada 15 Juni 2014, pihak MNC mengumumkan peluncuran sequel kedua Bima Satria Garuda yang berjudul Satria Garuda BIMA-X serial sequel ini mulai tayang pada 7 september 2014 sebanyak 50 episode menampilkan karakter baru dalam dunia BIMA. Tokusatsu Indonesia ini terinspirasi oleh tokusatsu Jepang yaitu Ksatria Baja Hitam, dikemas dalam nilai-nilai budaya Indonesia untuk menjadi pahlawan super baru Indonesia.
Tokoh Bima Satria Garuda (diperankan oleh Christian Loho), yang telah mendapatkan kekutatan super stone yang diberikan oleh seorang anak misterius yang bernama Mikhail (diperankan Aditiya Alkhatiri) dengan tujuan agar Bima Satria dapat menghentikan Rasputin untuk mengambil dan menguasai bumi. Dengan kekuatan super stone yang diberikan oleh Mikhail Bima dapat berubah wujud menjadi super hero Bima Satria Garuda. Disetiap pertempuran dengan Rasputin keluarga angkat Bima juga terlibat yaitu Ramdi Iskandar (diperankan Raihan Febrian) dan adiknya Rena (diperankan Stella Cornelia).  http://id.wikipedia.org/wiki/BIMA_Satria_Garuda). 

       Bima Satria Garuda adalah serial pahlawan super yang terinspirasi dari serial tokusatsu Jepang Ksatria Baja Hitam (istilah pelokalan yang pernah digunakan RCTI untuk serial Kamen Rider Black dan Kamen Rider Black RX yang populer di Indonesia, namun dikemas dengan nilai-nilai dan budaya Indonesia untuk menjadi pahlawan super baru Indonesia. Lokasi syuting BIMA diambil di Indonesia, khususnya di JakartaMenurut Reino Barack, Wakil Presiden Senior PT Global Mediacom sekaligus Produser Eksekutif serial ini, "BIMA Satria Garuda" juga ditujukan untuk menjadi sebuah model bisnis baru di dunia hiburan di Indonesia yang menawarkan jasa kampanye produk baru dalam bentuk licensing, sponsor, built in advertising dan merchandising pada para sponsor dan pengiklan. MNC Media (yang mayoritas sahamnya dimiliki Global Mediacom) bekerja sama dengan Itochu yang akan menjadi pemegang lisensi utama untuk "BIMA Satria Garuda" dalam membangun bisnis licensing yang dikembangkan di Indonesia. Itochu adalah salah satu perusahaan konglomerat terbesar dari Jepang yang banyak bergelut dalam bisnis licensing di dunia, sekaligus menanamkan modal di Ishimori Productions sejak tahun 2007. MNC Media juga bekerja sama dengan Bandai untuk memproduksi merchandise mainan "BIMA Satria Garuda" yang dirilis di Indonesia sejak penayangan perdana serial ini tanggal 30 Juni 2013.

Bandai sebagai produsen mainan yang sudah punya nama besar di seluruh dunia, sekaligus telah bertahan selama puluhan tahun di industri ini, tentu bukanlah perusahaan yang akan bertindak sembarangan. Tentu sudah ada perhitungan tersendiri dari Bandai, agar nantinya merchandise dari Bima Satria Garuda ini dapat laris di pasaran. Beberapa merchandise yang diproduksi oleh Bandai untuk Bima sendiri saat ini adalah mencakup pada action figure Bima dalam berbagai ukuran dan lainnya yang merupakan perlengkapan tokusatsu Bima.

Seperti yang saya tulis diatas para penggemar tokusatsu tidak hanya menjadi penikmat yang menikmati televisi show tokusatsu dengan cara menonton film tokusatsu maupun  mengoleksi action figure, Marchendise, ataupun DVD Original serial televisi show tokusatsu kesayangannya. Adapun kegiatan yang mereka lakukan yaitu cosplaycosplay merupakan singkatan dari costume roleplaying berarti kegiatan menggunakan kostum karakter yang terdapat dalam berbagai media, terutama berasal dari media Jepang (animetokusatsuvideo game, artis J-pop atau J-rock) sebagai bentuk representasi terhadap tokoh fiksi yang terdapat dalam media tersebut. penggemar melakukan cosplay dengan tujuan agar dapat tampil semirip dan serealistis karekter yang ditirunya tersebut. fenomena kegiatan cosplay di Indonesia bermunculan setelah maraknya berbagai acara (event) bertema Jepang dengan mengikutsertakan kegiatan cosplay. 

Landasan pemikiran di dalam isi Pembahasan di penelitian ini meliputi tentang rumusan masalah konsep budaya populer telaah disini mengambil sample tokusatsu bima satria garuda untuk ditelaah sebagai budaya populer Indonesia yang juga masih berbau asing ini, juga tanggapan tentang para konsumen tokusatsu bima satria garuda yang menonton sample dari forum diskusi internet (kaskus) juga menyinggung sedikit tentang praktek cosplay dalam kegiatannya sebagai budaya penggemar (fans). 





ISI
Kerjasama dalam hal perindustrian inilah yang menjadikan salah satu dari fokus penulis terhadap fenomena tokusatsu Bima yang tayang pada pertelevisian Indonesia, tidak hanya dalam bentuk kerjasama antara perundistrian televisi, penulis juga melihat fenomena tentang bagaimana dampak terhadap fenomena ini dalam masyarakat Indonesia dewasa ini. Karena kita mengetahui sendiri bahwa demam jejepangan mewabah masyarakat perkotaan dewasa ini.

Di dalam konteks Cultural Studiesbudaya populer menjadi salah satu sumber komprehensif untuk menelaah kaitan antara teks-teks budaya yang populer dengan ideologi atau hegemoni yang terkandung di dalamnya. Bentuk-bentuk budaya populer yang muncul dapat berupa film, serial televisi, musik, karya sastra, benda (teks) budaya lainnya, maupun gaya hidup yang dibentuk oleh sekelompok individu yang membentuk identitasnya sendiri. Storey (1996) menegaskan bahwa kajian mengenai budaya populer menjadi proyek sentral dalam cultural studies, meskipun cultural studies tidak bisa direduksi hanya berputar pada budaya populer saja. Hal ini disebabkan karena ‘budaya’ dimaknai secara politis bukan estetis, dimaknai dan dimengerti melalui teks dan praktik budaya yang muncul sehari-hari.

Budaya populer yang berasal dari Jepang merupakan salah satu bentuk budaya asing yang masuk dan diterima oleh masyarakat Indonesia. Bentuk media visual tersebut beragam dari anime, tokusatsu, film jepang dorama, permainan vide, dan lain-lain. Budaya populer yang berasal dari Jepang tersebut merupakan budaya yang diproduksi dan dikonsumsi secara luas terutama kalangan generasi muda dengan usia dibawah 30 tahun. Budaya populer tersebut berkembang dan menjadi pengaruh budaya di dunia dan berkontribusi terhadap perekonomian Jepang. Berkembangnya budaya populer Jepang secara lebih luas di Indonesia tidak lepas dari peranan masuknya serial animasi (anime) dan komik (manga) doraemon pada awal 1990-an. Sebelum Doraemon, masyarakat Indonesia menikmati berbagai anime dan tokusatsu melalui rental video betamax yang populer di era 1980-an. Penayangan Doraemon di salah satu telebisi swasta mendorong masuknya berbagai produk budaya populer lainnya seperti Dragon Ball ZYugi-oh, Flame of recca di Indonesia. Salah satu yang masuk ke Indonesia adalah tokusatsu yang terdiri dari berbagai genre dan dirilis dalam bentuk serial atau film.

Fenomena tokusatsu ini bahkan sampai memiliki sebuah komunitas yang menamai diri mereka komutoku, komutoku didirikan pada tanggal 7 mei 2007 mereka adalah perkumpulan fans dari film dan serial tokusatsu yang bergabung dalam forum di internet yang dibuat oleh fans tokusatsu Indonesia untuk membuat fans tokusatsu di Indonesia berani mengekspos eksistensi dirinya demi kemajuan tokusatsu di Indonesia. Komutoku memiliki visi membangun industri tokusatsu di Indonesia, dan misi menggalang fans tokusatsu membuka diri pada masyarakat, dan mengikuti acara bertema Jepang. Komutoku juga mendukung kegiatan insan perfilman tokusatsu independen serta mengembangkan minat dan bakat untuk memulai proyek film tokusatsu independen. Aktivitas komutoku terdiri dari berbagai kegiatan seperti koleksi merchandise yang tentu saja berhubungan dengan tokusatsu seperti kaos, action figure, replika, DVD original tokusatsu dari Jepang, dan melakukan cosplay di berbagai acara seperti AFA (Anime Festival Asia) kurang lebih apa yang dilakukan oleh komutoku ini hampir sama seperti para fans yang juga menyukai anime Jepang mereka juga melakukan hal yang persis sama menurut saya dengan apa yang dilakukan komutoku. Komutas tokusatsu di Indonesia merupakan manifestasi apa yang disebut sebagai budaya penggemar, mereka hadir sebagai bentuk kegiatan konsumsi budaya yang digemarinya.

Adapun tanggapan tanggapan dari para penonton bima satria garuda yang juga fans dari tokusatsu mereka mayoritas mendukung adanya produk kerjasama Indonesia ini ditayangkan (http://www.kaskus.co.id/thread/51837eb10a75b4213400000b/bima-satria-garuda-from-ishimori-pro/) mendiskusikan tentang adanya film ini yang juga membahas apa kekurangan dan membandingkan apa yang ada di dalam film tokusatsu bima satria garuda dengan tokusatsu lainnya yang sebelumnya pernah ada buatan Jepang. Namun adapun beberapa masyarakat yang berpendapat negatif terhadap film yang dikerjakan oleh Indonesia bekerjasama dengan bandai dan ishimori production ini, tetapi dari keseluruhan komentar yang ada dalam forum kaskus tersebut banyak yang mendukung dan juga memberikan saran dengan komentar yang baik seperti dikutip dari akun sunarkoplak 7-mei-2013 pkl 09:20, “overall desain & armor monster keren (didukung ishimori gitu loh) Cuma yang disayangkan, kalo tokusatsu ini mau memasukkan unsur budaya Indonesia kenapa banyak menggunakan istilah luar (macam: Rasputin,Azazel, Helios,dsb) jadinya malah gak terfokus ke mitologi pewayangan. Misalkan kalo organisasi musuhnya disebut KURAWA Empire, monsternya disebut: RHAKSASA/BHUTA, terus garuda yang jadi senjatanya disebut JATAYU. Pasti klop sama temanya (sekedar saran aja). Tapi gak apa2 deh minimal ini jadi salah satu langkah maju dimana film tokusatsu lokal digarap dengan serius dan sungguh2 ditunggu tanggal maennya neh.  Oiya moga senjata khas bima dimunculkan”.  Seperti kutipan diatas para pecinta tokusatsu sangat mendambakan adanya projek lokal (tokusatsu) yang dapat berkualitas dan bermanfaat bagi para penontonnya terutama anak-anak karena menurut salah satu kutipan kaskuser akun freedy_frame 25-Juni-2014, “ya gan daripada anak2 jaman sekarang disuguhin Ganteng2 Srigolo mending nonton ini gan”.

Tidak cuman tanggapan positif yang datang terhadap adanya televisi show bima satria garuda ini namun juga saya menemukan adanya salah satu blog seseorang yang mengkritik secara pedas terhadap produk garapan bandai dengan indonesia ini https://kasamago.wordpress.com/2013/07/02/damn-bima-satria-garuda-emang-buwat-anak-anak/ di dalam blog tersebut tertulis "Sisi jelek ada dalam kostum pasukan vudo,style nya jadul banget mirip dengan pasukannya GOD di film kamen rider X buatan tahun 1982. Coba pasukan vudo desainnya jangan datar bgt lah, malah jauh lebih bagus gavan,sharivan,Jiraiya ato Ultraman taro, semua buatan thn 80-an, jeda puluhan tahun tuh. Msih ad 25 episode lagi moga ada perbaikan".

Budaya populer merupakan salah satu objek paling komprehensif dalam konteks cultural studies. Istilah ‘budaya populer’ selalu mengacu pada konteks budaya yang dinikmati oleh banyak orang. Namun memiliki perbendaan-perbedaan yang kontras dengan bentuk budaya lainnya. Menurut Storey, budaya populer berarti budaya yang disenangi banyak orang (Storrey 1993:7). Budaya populer secara harfiah merupakan teks budaya yang umum dan biasa dikenal dalam lingkungan mmasyarakat yang populer (terkenal). Pemaknaan dan praktiknya sangat ditentukan oleh partisipasi yang dilakukan oleh para penikmat teks tersebut. Sehingga secara politis, budaya menjadi ajang perdebatan terhadap pemaknaan akan budaya terutama terhadap mereka yang berkuasa secara budaya.

Penggemar melakukan hal-hal yang berbeda dengan masyarakat umumnya dengan tindakan-tindakan yang dianggap berbahaya, menyimpang, sementara masyarakat biasa melakukan dengan normal dan aman. Pemahaman demikian menciptakan stereotip yang diskriminatif terhadap penggemar sekaligus pencitraan yang berat sebelah atas keantusiasan mereka terhadap teks budaya yang dinikmatinya. Penggemar, yang selera dan praktik budayanya berlawan dengan logika estetis kaum dominan, harus dipresentasikan sebagai ‘other’ (yang lain) (Jenkins, 1992:19). Dari sudut pandang kaum borjuis atau pihak yang berkuasa atas budaya dominan, kehadiran penggemar akan menganggu dan membahayakan standarisasi selera yang telah mereka kuasai. Bordieu (19979, dalam Jenkins 1992) melihat selera (taste) menjadi alat pembentuk identitas dan pembedaan antar kelas. Selera penggemar dianggap melanggar selera yang dimiliki oleh hirarki budaya yang dominan, penentuan terhadap selera tersebut merupakan alat pembenaran kaum dominan terhadap segala stereotip negatif yang ditunjukan kepada penggemar.






Analisis dan Kesimpulan
Dalam kenyataannya, posisi budaya populer menjadi rumit ketika dihadapkan pada konteks budaya tinggi atau budaya kanon yang memiliki nilai estetika yang berbeda dengan budaya populer tersebut. dari sudut pandang budaya tinggi, budaya populer hanyalah budaya yang berada di bawah standar yang telah ditentukan melalui selera, estetika, prefensi, maupun kualitas. Cara pandang seperti ini merupakan usaha mempertahankan posisi budaya tinggi dari serbuan budaya populer yang masif. Peneliaian seperti ini ditentukan oleh adanya nilai-nilai dan faktor yang membedakan kedua jenis budaya tersebut. storey (1993) menjelaskan bahwa faktor-faktor tersebut bisa dilihat dari kompleksitas budayanya, nilai moral yang dipakai sebagai tolak ukur, maupun pandangan kritis yang menentukan apaka sebuah budaya tersebut bernilai atau tidak. Akibatnya sangat sulit untuk menentukan apakah suatu budaya populer tersebut dapat dianggap berharga, atau bisa disamakan dengan budaya tinggi tersebut.

Konsumsi budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sirkuit budaya, bahkan merupakan momen yang paling krusial dalam prosesnya karena konsumsi merupakan aktivitas yang telah ditentukan sebelumnya oleh produksi. Pengertian konsumsi secara umum berarti menggunakan sesuatu yang merupakan kebalikan dari produksi. Konsumsi secara harfiah berarti “menggunakan” sesuatu yang sebelumnya telah diproduksi, sementara produksi tidak akan ada tanpa adanya mereka yang disebut konsumen sebagai target dari produksi tersebut. Mackay (1997:2) menegaskan bahwa consumption is seen as an active proccess and often celebrated as pleasure, and the consumer has become elevated to the status of citizen, the principal means whereby we participate in the polity. Pengertian ini menjelaskan bahwa konsumsi adalah sebuah proses aktif yang kadang dirayakan. Posisi seorang konsumen dalam status sosial masyarakat bisa berubah dengan mengkonsumsi suatu benda budaya. Konsumsi budaya dalam konteks postmodern telah berarti sebagai being the very material out of which we construct our identities we become what we consume (konsumsi budaya dilihat sebagai material yang membentuk identitas kita, kita menjadi apa yang dikonsumsi oleh ktia).

Melaui perkembangan zaman, konsumsi skearang tidak hanya dilihat sebagai kegiatan pasif menggunakan barang (komoditas oleh konsumen mereka yang disebut konsumen mulai menunjukan kreativitas dan keterlibatan yang lebih mendalam terhadap produk yang dikonsumsi. Kreativitas dan keterlibatan tersebut direfleksikan dalam kegiatan sehari-hari, merubah persepektif yang selama ini melekat terhadap konsumen. Konsumen mulai berperan aktif menggunakan produk-produk budaya kebutuhan mereka sendiri. Konsumen dalam sudut pandang de Chertau (1984) telah berubah dan mampu kreatif mengambil dan memanipulasi produk-produk yang mereka konsumsi. Konsumen sekarang telah memiliki kemampuan untuk menciptakan produksi budaya sendiri sebagai akibat dari reaksi terhadap budaya yang sebelumnya dikonsumsi. Hal ini terjadi karena keterlibatan dan kreativitas dari budaya (komoditas) sebagai basis awal. Konsumsi tidak menjadi akhir dari suatu proses, melainkan menciptakan hal awal lainnya menjadikan hal tersebut sebagai bentuk produksi baru. Seperti halnya bima satria garuda yang merupakan budaya populer Indonesia dari kerjasama dengan pihak Jepang, Indonesia tidak serta merta mengkonsumsi suatu budaya populer namun juga membuat awal daripada suatu budaya populer. Walaupun dalam praktiknya belum dapat menghasilkan sebuah karya yang dibuat oleh pihak Indonesia sendiri, namun ini adalah langkah awal dalam pembangkitan suatu produk baru yang inovatif.
Budaya penggemar selama ini sering dipahami dalam konteks negatif yang selalu dicirikan sebagai suatu kefanatikan yang potensial. Penggemar rata-rata dilihat dari kacamata umum sebagai korban dari produk-produk budaya yang mereka konsumsi secara berlebihan. Selain menjadi korban mereka juga menikmati produk budaya dengan cara yang berlebihan. Karakteristik penggemar selalu dipresentasikan sebagai antisosial, berpikiran pendek, dan selalu terobsesi terhadap apa yang dikonsumsinya tersebut. pandangan negatif tersebut juga diperkuat oleh adanya wacana umum terhadap orang lain (other).
Terlihat jelas bahwasanya tidak sedikit juga masyarakat umum dan netizen kita menganggap bahwa tontonan yang layak merupakan  berasal dari budaya dari luar, karena kompatipabel tayangan Indonesia yang kurang menarik dan mendidik sementara meninggikan produk budaya yang datang dari luar, film Bima Satria Garuda juga mendapatkan kritik pedas terhadap pelaksanaanya dan juga respon yang negatif karena kurangnya daya saing produk film negara sendiri dengan film yang ditayangkan oleh negara asalnya (Jepang) antusiasme budaya Jepang yang ada di Indonesia terlihat jelas bagaimana berbagai kalangan dari usia anak-anak sampai dewasa pun menikmati tontonan film jepang seperti anime, drama jepang, dan produk film jepang. Tidak banyak kita temukan downloader akan perfilman produk Jepang. Lantas dimanakah produk negara sendiri? Apakah memang kita tertinggal pengetahuan oleh negara lain sampai tidak ada ide yang datang kepada para kreator Indonesia dalam mewujudkan film yang dapat dinikmati oleh masyarakat luasnya sendiri?






Daftar Pustaka
Certeau, Michel de. (1984). The Practice of Everyday Life: University of California Press
Heryanto, Ariel.(2012)  Budaya Populer di Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra
Storey, John (1993). An Introduction Guide to Cultural Theory and Populer Culture. New York: Harvester Wheatseaf
__________ (2007). Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop, Pengantar Komprehensif: Teori dan Metode. Yogyakarta: Jalasutra
Kompasiana (2013) Simbiosis Mutualisme Merchandise dan Karakter dalam seri Bima Satria Garuda


Internet
Bandai. Product Catalog. 2 Januari 2015. http://www.bandai.co.jp/e/products/index.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar